Jepara Berubah

Partisipasi yang sedang dituntut saat ini adalah merupakan suatu proses perubahan, dimana dari perubahan tersebut....

Zakat

“sesungguhnya bila aqidah tidak mampu memberikan dampak (positif) dalam corak berfikir manusia, peningkatan ibadahnya maka tidak ada arti baginya”.

Teologi Demonstrasi

Demonstrasi”. Satu kata penuh makna ; heroisme, perjuangan, advokatif, brutal, anarkis, dibanggakan, dibenci, sensasional, romantis, kekacauan....

Sayap-sayap Senja

Disuatu senja engkau pernah berkata ; “Aku tidak sanggup hidup tanpa berhayal dan bermimpi. Keduanya selalu mengisi hidupku yang membuat aku tidak bisa keluar rumah.

Minggu, 12 April 2009

TUTURKU BUNDA

Diposting oleh admin di 08.09 0 komentar

Oleh: Diana Walud



Ingin sekali kutinggalkan kotamu
Melepas jengah membalut luka
Menuju kotaku yang lama kutinggalkan
Ingin kuusap wajah bunda
Mengelus lembut damai tangannya
Bercerita aku di sini baik-baik saja

Ingin sekali kutinggalkan kotamu
Sesaat menyandar berat kepala
Sekedar kudapat senyum bunda
Jujur saja, aku sedang butuh kekuatan
Walau sebenarnya kujaga benar-benar
Wasiat bunda, jangan pupus asa

Ingin sekali kutinggalkan kotamu
Bukannya menyerah dan aku kalah
Tapi kucoba mengurai makna
Ke depan sambil siasatku kutata
Bunda, aku masih tegar bukan?
Ya, seperti semasa kecil selalu kau bilang
Semoga di sana tak semendung langit ini

Ingin sekali kutinggalkan kotamu
Tempat aku menabur cinta dan harapan
Kulukis hidup yang sebenar, bukan sekedar
Bunda, baik-baikkah kau di sana?
Percaya sajalah pada tuturku
Sesekali abaikan saja firasatmu
Kau bisa saja selami hati ini
Meski sebenarnya kau bukan Tuhan

Ingin sekali kutinggalkan kotamu
Setelah aku baca suratmu
Betapa benar-benar kau cinta aku
Sudahlah, lupakan saja !!

::.gambar dari sini

HATI YANG MENANAM

Diposting oleh admin di 08.05 1 komentar

Oleh : Hamim Salam


Kala Desember datang, kita diingatkan terjadinya tragedi kemanusiaan terbesar di negeri tercinta sepanjang abad ini. Bencana tsunami telah meluluhlantahkan "Serambi Mekah" dan Pulau Nias yang menelan ratusan ribu nyawa dengan sia-sia. Tsunami Aceh seolah mengawali serentetan musibah bencana alam yang melanda negeri ini.
Tidak berselang lama, terjadi gempa di Jogja dan Klaten, Tsunami Pangandaran, banjir di berbagai wilayah, angin Lisus dan Puting Beliung, tanah longsor, gunung meletus, kekeringan, intrusi dan sebagainya.

Sebenarnya apa yang terjadi? Benarkah penggalan lagu Ebiet G. Ade bahwa bumi telah bosan bershahabat dengan kita? Kalau memang bumi sudah tak lagi mau bershahabat dengan kita, maka bersiap-siaplah kita untuk tidak nyaman, was-was, terancam "terusir" serta terhengkang dari muka bumi ini.

Dalam disiplin Geografi, alam ini (bumi pada khususnya dan tata surya matahari pada umumnya) selalu mengalami perubahan, baik secara frontal (revolusi) maupun perlahan-lahan (evolusi). Sedangkan dalam perspektif ilmu Logika, berdiri dan tenangnya sesuatu benda terjadi karena adanya keseimbangan. Artinya, jika bumi tidak tenang lagi dan mulai goyah maka itu berarti telah terjadi ketidakseimbangan.
Bagian-bagian bumi ini merupakan kesatuan yang saling berkait, sehingga membentuk sebuah ekosistem. Ekosistem ini terdiri dari biotik dan abiotik, di mana sumber kehidupan utamanya adalah CO2 (oksigen) dan H2O (air). Ketidakseimbangan sirkulasi dan peran dari zat-zat tersebut mengakibatkan ketidakseimbangan ekosistem. Akibatnya regulasi ekosistem terganggu sehingga mengakibatkan terjadinya ketidakteraturan alam ini.

Ke(peng)rusakan lingkungan, ke(peng)gundulan hutan, penggunaan zat karbon berlebihan, peningkatan polusi kendaraan dan pabrik, serta reklamasi pantai adalah di antara penyebab ketidakseimbangan alam yang mengakibatkan perubahan alam (iklim). Ahirnya, bencana alam senantiasa hadir sebagai "pelengkap" ulah brutal manusia.
Pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi) merupakan penyumbang terbesar emisi gas bumi yang berpotensi "memanaskan". Kemudahan hidup akibat pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi ternyata harus dibayar mahal. Bumi semakin panas, ancaman hidup semakin ganas.

Bumi tempat kehidupan ini selayaknya kita sadari sebagai titipan anak cucu kita. Apa yang kita terima hari ini adalah hasil dari perbuatan kemarin. Begitu juga apa yang kita perbuat hari ini adalah penyebab kejadian di hari esok, di mana anak cucu kita akan hidup. Bagaimanapun berpikir demi kebaikan masa depan akan jauh lebih baik dan bijak, lebih-lebih jika kebaikan itu terkait kepentingan banyak orang. Dengan tidak bermaksud sok melankolis, rasanya perlu kita nyatakan bahwa pelestarian alam raya sama artinya dengan pelestarian setiap nyawa.

Atas hal ini, dengan dalih kesejahteraan manusia sekalipun, pemanfaatan sumber daya alam harus diikuti kesadaran pentingnya menjaga keseimbangan da pelestarian alam. Di sini kita senantiasa dituntut untuk selalu "berwawasan lingkungan"
Akan tetapi di sisi lain, berbagai bentuk penyimpangan selalu mewarnai dalam upaya konversasi lingkungan yang dilakukan baik oleh pemerintah, lembaga masyarakat, ataupun masyarakat perorangan. Pembalakan liar (Illegal loging) dan eksploitasi tambang adalah contoh yang sering kita dapati di negeri "paru-paru dunia" ini. Ironisnya, penyimpangan yang terjadi justru dilakukan oleh oknum "pengurus" bangsa yang selayaknya menjadi teladan.

Alhasil, menjaga dan melestarikan alam bisa diawali dari diri sendiri dengan menjaga lingkungan terdekat sekitar kita. Hari ini, bukan terlambat jika kita menanam "kesadaran menanam" dalam lubuk kalbu yang terdalam. Biarkanlah hati ini menanam. Subhanallah.

::.gambar dari sini

TAHAJUD CINTA SEGI TIGA

Diposting oleh admin di 07.59 0 komentar

Oleh: Lisa Mufarriha

Allah, kuterima anugerah-Mu atas cinta ini. Bahagia aku bersama-Mu.
Allah, rasa ini nyata begitu nyata. Menyentuh kenyataan yang sebenar-benarnya. Engkau penggenggam setiap hati, dan telah Kau genggam hati ini.

Allah, Engkau maha penggenggam segenap hati. Genggam hatinya dalam genggam cinta-Mu. Ini anugerah yang akupun telah Kau beri. Tanamkan anugerah yang sama pada hatinya. Jika tidak, ambil saja anugerah ini agar kita tetap bercinta seribu malam. Bercinta di lembar sajadah ini.

Allah, Engkau tahu negeriku tak mengenal salju, tapi aku teramat dingin tanpa dia. Engkau juga telah mengenali betapa aku teramat lemah dan pilu. Engkaulah sang maha cinta bersama ini. Cinta-Mu melebur dalam cinta ke"adam-hawa"an ini.

Allah, rasa ini sungguh nyata. Ia sepercik cinta yang Kau tabur di relung hati. Engkau tahu sebatas apa anugerah ini aku rasa. Aku terima. Aku damba. Aku puja. Aku yakini. Aku imani. Cinta-Mu teramat nyata nikmat dalam hidup yang sekejap.

Allah, Kau genggam hati dan rasa ini. Peluk aku dalam dekap cinta-Mu. Ciptalah hatinya menyatu dalam keindahan ini. Keindahan rasa yang Kau cipta. Allah, Engkau maha indah. Indahkan jiwa ini lebur dalam hatinya. Hatikan rasanya dalam rasa hati ini. Aku teramat begitu cinta meski sungguh aku takut menduakan-Mu.

Allah, Kau cinta pertama dan terahir bagiku. Namun akupun merasa dia nyata singgah dalam percintaan kita. Bukankah Kau juga tahu, bukan ? Jadikan ia sebagai lengkapnya cinta ini pada-Mu. Jangan jadikan ia selingkuhan yang melupakan-Mu. Aku tahu dan teramat malu. Rasa ini milik-Mu. Engkau tahu rasa ini penuh dari-Mu.

Allah, cinta ini nyata dan teramat nyata. Penuh rasa ini adalah cinta yang Kau semaikan. Anugerahilah ia rasa indah ini. Menyatu dalam sekeping hati yang Kau beri. Panggilan-Mu mengetuk pintu percintaan ini. Allahu akbar.

Allah, aku cinta Kau dan dia. Bukan perselingkuhan bukan pen-dua-an. Bukan kupalingkan apalagi penghianatan. Engkau maha cinta yang segala-galanya. Satukan rasa ini dalam teramat indahnya cakrawala cinta-Mu. Satukan jiwa raga kami. Ia teramat penting bagiku. Gusti Allah cintaku, Kau bukan pencemburu bukan?

Allah, jika memang bukan ia untukku, maka hapuskan aku dari memujanya. Tapi jika ini nikmat surga-Mu dalam megah 'aras cinta-Mu, maka cintakanlah ia dalam cinta yang sama. Dalam singgasana cinta antara Engkau, aku dan dia. Singgasana penuh cerita dalam elegi "cinta segi tiga". Berkahilah cinta ini.

Allah, Kau sungguh maha pemurah. Janganlah pernah Kau buat cinta ini begitu mahal hingga aku tak mampu mencapainya atau sekedar menawarnya. Nyatakanlah cinta ini dalam kenyataan yang senyata-nyatanya. Sungguh rasa ini begitu teramat nyata dalam indah cinta alam raya penuh makna.

Allah, imanku jadikan-Mu sang maha cinta-kasih. Pelukilah aku jika hati ini merapuh. Seperti kemarin.

::.gambar dari sini
 

LPM BURSA Copyright 2009 Reflection Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez